Penemuan Sains Islam yang Diklaim Barat

MENGUAK FAKTA SEJARAH
Penemuan Sains Islam yang Diklaim Barat

Jenis-Jenis Temuan Sains Islam dan Penemunya yang Diklaim dan Disembunyikan oleh Barat
     Sejarah pernah membuktikan bahwa Islam pernah mengalami masa kejayaan yang mendorong para ilmuwan muslim melahirkan karya dan temuan di bidang teknologi (ilmu pengetahuan). Tetapi, sebagian besar dan temuan mereka diklaim dan disembunyikan oleh yaitu ketika Barat mengalami masa kebangkitan, dan Islam mengalami masa kemunduran.
     Agar Anda mengetahui fakta sejarah dengan komprehensif mengenai penemuan sains dan teknologi Islam yang diklaim dan disembunyikan Barat, tentu Anda harus mengetahui pula apa saja jenis temuan para ilmuwan muslim yang diklaim dan disembunyikan Barat. Dengan mengetahui jenis-jenis itu, maka Anda akan menguak betapa besar kontribusi para ilmuwan muslim di masa kejayaan Islam terhadap peradaban dunia hingga saat ini, namun hal tersebut disembunyikan oleh orang-orang Barat.
     Oleh karena itu, disini akan diuraikan dengan jelas tentang jenis-jenis temuan sains Islam dan penemunya yang diklaim dan disembunyikan oleh dunia Barat hingga saat ini dan juga jenis-jenis temuan teknologi Islam dan penemunya yang diklaim dan disembunyikan oleh Barat.
A. Penemuan Teori Bumi Bundar
     Hingga saat ini, masyarakat dunia meyakini bahwa teori bumi bundar adalah ilmuwan Barat, yaitu Nicolaus Copernicus. Masyarakat dunia meyakini hal tersebut lewat klaim Barat yang tertulis dalam buku berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium (Tentang Revolusi Bulatan Benda-Benda Langit) yang ditulis oleh Nicolaus Copernicus. Dalam buku tersebut, ia mengemukakan pendapat dan teorinya yang (katanya) berdasar hasil penelitian dan pengamatan serius bahwa bumi itu bundar.
      Barat mulai mengklaim bahwa teori bumi bundar dicetuskan oleh Nicolaus Copernicus pada abad ke-16. Anehnya, sejarah yang tertulis di Barat menyatakan bahwa Nicolaus Copernicus adalah pencetus pertama teori bumi bundar saat pengaruh gereja Kristiani di Eropa masih sangat dominan. Pernyataan Nicolaus Copernicus bahwa seluruh alam semesta merupakan bola bertentangan dengan dogma gereja Kristiani di Eropa, Artinya, klaim Barat tersebut sebenarnya sejak awal sudah menciptakan kesangsian seputar benar atau tidaknya pencetus pertama teori bumi bundar adalah Nicolaus Copernicus. Pasalnya, pada masa kegelapan Eropa yang ditandai dengan dominasi gereja Kristiani, setiap ide atau pemikiran yang bertentangan dogma gereja ditolak. 
     Dalam konteks teori bumi bundar, bila Anda membaca sejarah dengan benar, maka Anda akan mengetahui bahwa Barat sebenarnya telah menyembunyikan fakta sejarah. Pengakuan Barat bahwa pencetus teori bumi adalah seorang ilmuwan Barat, Nicolaus Copernicus, sebenarnya hanyalah sebuah kebohongan. Sebab, kenyataannya, yang mencetuskan teori bahwa bumi itu bundar adalah para ilmuwan muslim, bukan Nicolaus Copernicus. Fakta sejarah menampakkan bahwa Nicolaus Copernicus hanya meneruskan hasil pemikiran para ilmuwan muslim.
     Pada masa keemasan Islam, yaitu di abad ke-9 M, alam semesta, termasuk Bumi, adalah objek kajian para ilmuwan muslim. Hal itu terjadi jauh sebelum kelahiran Nicolaus Copernicus. Ia baru lahir pada abad ke-15, atau pada tahun 1473 M di Polandia. Dengan kata lain, para ilmuwan muslim lebih awal melakukan kajian tentang bumi dibandingkan dengan para ilmuwan Barat, termasuk juga lebih awal dalam mencetuskan teori bentuk bumi. Pada saat para ilmuwan Muslim melakukan beragam kajian tentang bumi, kemudian menyatakan bahwa bentuk bumi bulat seperti bola, saat itu Barat sedang berada di masa kegelapan (dark ages), dan masih meyakini bahwa bentuk bumi adalah datar (bukan bulat).
     Fakta bahwa Nicolaus Copernicus bukan pencetus utama teori bumi bundar-hanya melanjutkan teori ilmuwan muslim di abad sebelumnya juga diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Edward S. Kennedy dari American University of Beirut. Dari penelitian yang dilakukannya, Edward S. Kennedy menyimpulkan bahwa Nicolaus Copernicus hanya meniru dan mengembangkan dengan tidak mengatakan menjiplak- teori para astronom muslim, seperti Ibnu ash-Shatir (wafat 1375). Muayyad ad-Din al-'Urdi (wafat 1266), dan Nasirad-Din ath-Thusi (wafat 1274). 
     Artinya, berbagai teori yang dikemukakan oleh Nicolaus Copernicus tentang bumi, perbintangan, dan astronomi sebenarnya hanya menyadur dari teori para ilmuwan muslim. Hal itu tampak jelas dari matematika yang digunakan oleh Nicolaus Copernicus untuk mengembangkan teori-teorinya ternyata memiliki banyak sekali kesamaan dengan matematika yang digunakan oleh para ilmuwan muslim pada abad-abad sebelumnya. 
     Ilmuwan muslim yang mencetuskan teori bumi bundar sebenarnya tidak hanya lebih awal dari Barat, tetapi juga lebih awal dari Cina, meskipun peradaban ilmu pengetahuan Cina lebih dulu maju dibandingkan Islam. Pada mulanya, Cina meyakini bahwa bentuk bumi datar. Ilmuwan Cina baru mengatakan bahwa bentuk bumi bulat seperti bola pada abad ke-17 M, satu abad setelah ilmuwan muslim mencetuskan teori bumi bundar. Cina mengakui bahwa bentuk bumi bulat pasca kepemimpinan Dinasti Ming.
     Fakta sejarah yang tak terbantahkan-namun disembunyikan oleh dunia Barat-bahwa ilmuwan muslim pencetus teori bumi bundar muncul pada masa kejayaan Islam di era kepemimpinan Khalifah Al-Ma'mun, pada tahun 830 M. Ilmuwan muslim terkemuka lainnya, Ibnu Khaldun (wafat 1406), dalam kitabnya yang fenomenal berjudul Muqaddimah, juga menyatakan bahwa bumi itu seperti bola. Fakta itu dapat dilihat dari adanya peta globe pertama di dunia pada tahun 830 M yang dirancang oleh Muhammad bin Musa al-Khawarizmi dengan muslim lainnya yang ahli di bidang astronomi.
     Selain lahir peta globe dari para ilmuwan muslim masa kepemimpinan Khalifah Al-Ma'mun juga lahir konsep ukuran volume mengelilingi bumi yang dirancang oleh ilmuwan muslim. Dari konsep yang dicetuskan oleh para ilmuwan muslim itu, muncullah ukuran matematis keliling bumi, yaitu keliling bumi mencapai 24 ribu mil atau 38,6 ribu km. Hasil kalkulasi ukuran keliling dunia dari para ilmuwan muslim itu hampir sama dengan kalkulasi (penelitian) yang dilakukan oleh para ilmuwan pada abad modern, yaitu hanya selisih 3,6. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hasil yang diperoleh para ilmuwan muslim era kepemimpinan Khalifah Al-Ma'mun itu cukup prestisius.
     Masih berkaitan dengan bumi, seorang ilmuwan muslim bernama Abu Raihan al-Biruni (973-1048) pernah melakukan penelitian pertama kali di dunia tentang ukuran jari-jari bumi. Hasil penelitian yang dipublikasikan pada abad ke-10 M itu menyatakan bahwa ukuran jari-jari bumi mencapai 6339,6 km. Hasil penelitian Abu Raihan al-Biruni itu hanya selisih 16,8 km dari hasil penelitian para ilmuwan di abad modern. Padahal, Abu Raihan al-Biruni hanya menggunakan metode yang klasik (tradisional), yaitu menggunakan perhitungan trigonometri yang didasarkan pada sudut antara sebuah daratan dengan puncak gunung.
     Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pencetus pertama di dunia tentang teori bumi bundar sebenarnya adalah ilmuwan muslim. Tetapi, fakta sejarah itu disembunyikan oleh Barat. Bahkan, Barat mengklaim bahwa pencetus pertama di dunia tentang teori bumi bundar adalah Barat. Dengan kata lain, Barat telah melakukan "pembohongan" terhadap dunia.
     B. Teori Gravitasi Bumi
     Jika muncul pertanyaan, siapakah penemu teori gravitasi bumi? Barangkali, dengan spontan, Anda akan menjawab Sir Isaac Newton, seorang ilmuwan Barat yang lahir di Woolthorpe, Lincolnshire, Inggris, tepat pada Hari Natal pada tahun 1642. Kuatnya anggapan bahwa Isaac Newton adalah seorang ilmuwan yang menemukan teori gravitasi bumi adalah wajar. Sebab, melalui sejarah yang sengaja diciptakan oleh Barat-tanpa dilakukan penelaahan ulang yang mendalam-masyarakat dunia, termasuk masyarakat muslim, menerima dan meyakini bahwa Isaac Newton-lah ilmuwan pertama di dunia yang menemukan gaya gravitasi bumi. 
     Maklum, dunia mengenal Isaac Newton sebagai seorang ilmuwan Barat yang ahli di bidang fisika, matematika, astronomi, kimia, dan filsafat. Bukunya berjudul PhilosophiƦ Naturalis Principia Mathematica (1687) seakan telah "mendoktrin" masyarakat di seluruh dunia bahwa Isaac Newton memang benar-benar penemu gravitasi bumi. Dalam buku itu, Isaac Newton menjelaskan mengenai hukum gravitasi dan tiga asas (hukum) pergerakan. Karya itu mampu mengubah cara pandang masyarakat di seluruh dunia, termasuk Indonesia, terhadap hukum fisika alam. Bahkan, pemikiran Isaac Newton dalam buku tersebut menjadi dasar dari ilmu pengetahuan modern. Tidak mengherankan jika banyak yang mengatakan bahwa buku yang ditulis Isaac Newton dinisbatkan sebagai buku fisika yang paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. 
     Oleh karena itu, banyak buku sejarah maupun buku yang membahas tentang sains yang mengatakan bahwa Isaac Newton adalah penemu gaya gravitasi bumi. Ia Tenemukan gaya gravitasi (katanya) dimulai dari pengamatan yang sangat sederhana, yaitu melihat buah apel yang jatuh di depannya ketika sedang beristirahat di bawah pohon tersebut. Klaim Barat ini telah diyakini oleh hampir seluruh masyarakat dunia reputasi Barat dalam peradaban ilmu pengetahuan semakin tinggi.
      Padahal, Isaac Newton bukanlah ilmuwan penemu gravitasi bumi, meskipun ia adalah seorang ahli fisika banyak berpengaruh di abad modern. Masyarakat dunia tidak pernah mengetahui fakta sejarah yang sebenarnya, bahwa teori gravitasi bumi telah ditemukan lima abad lamanya atau 500 tahun sebelum Isaac Newton memproklamasikan diri sebagai penemu teori gravitasi. Ada beberapa alasan dan fakta ilmiah bahwa Isaac Newton bukanlah ilmuwan pertama penemu gaya gravitasi bumi, meskipun ia seorang ahli fisika. Alasan dan fakta-fakta tersebut adalah sebagai berikut:

1. Lemahnya Teori Gravitasi Versi Isaac Newton
     Alasan pertama bahwa Isaac Newton bukanlah penemu teori gravitasi bumi adalah karena teori yang ia kemukakan tentang gravitasi bumi sangat lemah. Seorang teman dekat Isaac Newton bernama Willam Stukeley, mengatakan bahwa Isaac Newton saat masih muda sering mengungkapkan pertanyaan mengapa benda-benda selalu jatuh menuju permukaan bumi? Pertanyaan itu sering terlontar dari mulutnya ketika ia sedang beristirahat di bawah pohon apel bersama Willam Stukeley.
     Ketika ada sebuah apel jatuh di depan Isaac Newton, Ia pun mulai mengonsep teorinya bahwa gravitasi bekerja di puncak pohon apel. Tidak hanya itu, Isaac Newton juga memperkirakan bahwa gravitasi juga berada di puncak gunung. Bahkan, menurutnya, bisa saja bekerja sampai ke bulan. Alasan Isaac Newton mengatakan bahwa gravitasi bisa bekerja sampai ke bulan karena gravitasi bumi menahan bulan pada orbitnya. Pada saat Isaac Newton memikirkan gravitasi bumi, ia sebenarnya sedang memikirkan dua persoalan, yaitu mengapa benda-benda selalu jatuh ke permukaan bumi dan bagaimana gerakan planet-planet?
     Berkaitan dengan kedua persoalan itu, kelemahan teori Isaac Newton tampak jelas ketika ia berkesimpulan bahwa gerak jatuh benda dan gerakan planet hanya disebabkan oleh satu faktor. Oleh karena itu, Isaac Newton mempublikasikan hasil pengamatannya pada abad ke-17 bahwa interaksi yang sama adalah penyebab jatuhnya benda-benda ke permukaan bumi dan membuat planet tetap berada pada orbitnya ketika mengeliling matahari. Sungguh, sebuah teori yang sangat sederhana dan lemah.

2. Runtuhnya Teori Isaac Newton dan Beralihnya Teori Gravitasi Versi Ilmuwan Muslim
     Lemahnya teori yang dikemukakan oleh Isaac Newton membuat banyak pakar menolak gagasannya. Banyak ilmuwan lain merasa semakin bingung dengan teori yang dikemukakan oleh Isaac Newton tentang gravitasi bumi. Dengan kata lain, teori yang dikemukakan oleh Isaac Newton tentang gravitasi bumi sangat keliru. Berbeda halnya dengan Isaac Newton, para ilmuwan muslim justru mengemukakan teori yang berbeda tentang gravitasi bumi. Menurut para ilmuwan muslim, gaya gravitasi bumi adalah gaya tak sentuh. Artinya, gaya gravitasi bumi adalah gaya yang bekerja antara dua benda yang berjauhan, alias tidak ada kontak sama sekali antara dua benda tersebut. Dengan kata lain, menurut para ilmuwan muslim, gaya gravitasi bumi bekerja tanpa sentuhan antara dua benda.
     Bandingkan dengan teori yang dikemukakan oleh Isaac Newton, yang seakan-akan menyamakan gaya gravitasi bumi dengan gaya-gaya umum yang bekerja karena adanya kontak. Misalnya, batu bergerak karena manusia mengangkatnya, becak bisa berjalan karena ada yang mendorongnya, kursi bisa pindah tempat karena ada yang mengangkat dan memindahkannya, senar gitar bisa bergetar dan berbunyi karena ada yang memetiknya. Karena pandangan semacam Isaac Newton mengatakan bahwa apel bisa jatuh ke permukaan bumi karena bumi memberikan gaya kepadanya. Demikian bumi mempertahankan bulan pada orbitnya dengan gaya gravitasi, meskipun tidak ada kontak serta letak bumi dan bulan berjauhan.
     Isaac Newton tidak melihat benda-benda yang selalu jatuh ke permukaan bumi dan gerakan planet-planet sebagai dua hal yang berbeda. Padahal, menurut ilmuwan muslim, sebagaimana yang telah diakui olen teori gravitasi modern, benda yang jatuh ke bumi dan gerakan planet adalah dua hal yang berbeda. Seorang ilmuwan muslim telah meyakini bahwa jatuhnya benda ke bumi dan gerakan planet adalah dua hal yang berbeda sejar 500 tahun sebelum Newton mencetuskan teorinya, yaitu Al-Biruni.
     Al-Biruni adalah ilmuwan yang berjasa dalam perumusan teori gravitasi bumi, bukan Isaac Newton. Bahkan, sebagai seorang ahli fisika, ia memberikan kontribusi penting bagi pengukuran jenis berat (specific gravity) nerbagai zat dengan hasil perhitungan yang sangat cermat dan akurat. Konsep ini sesuai dengan prinsip dasar yang ia yakini bahwa seluruh benda tertarik oleh gaya gravitasi bumi. Sayangnya, lima abad (500 tahun) kemudian teori yang dikemukakan oleh Al-Biruni diklaim sebagai Isaac Newton. Sejarah telah diubah oleh Barat. Sehingga, masyarakat dunia tidak mengenal ilmuwan muslim bernama Al-Biruni. Mereka lebih mengenal Isaac Newton dengan konsep hukum gerak Newton.  Padahal, konsep hukum gerak Newton justru diilhami oleh teori Al-Biruni. Hasil hipotesis Al-Biruni tentang rotasi bumi di sekeliling sumbunya juga diklaim sebagai teori yang dicetuskan ilmuwan Barat, yaitu Galileo Galilee, 600 tahun setelah wafatnya Al-Biruni.
     Fakta sejarah bahwa pencetus teori gravitasi bumi dan banyak hal tentang ilmu bumi-adalah ilmuwan muslim bernama Al-Biruni sebenarnya dapat dibaca dalam buku fenomenal berjudul Mizanul Hikmah. Dalam buku tersebut semua pandangan ilmuwan tentang gravitasi bumi tertulis dengan sangat lengkap. Sayangnya, buku fenomenal tersebut tidak terakses oleh masyarakat dunia. Hanya sebagian kalangan yang pernah membaca karya fenomenal tersebut. Bukan tidak mungkin, lenyapnya buku tersebut justru sengaja dilakukan oleh Barat untuk menghilangkan fakta sejarah yang sebenarnya.
C. Temuan-Temuan dalam Ilmu Astronomi
     Bila berbicara ilmu astronomi, maka ingatan publik barangkali akan mengarah pada para ilmuwan Barat. Hal itu hingga saat ini masyarakat dunia masih meyakini bahwa hanya para ilmuwan Barat yang banyak berjasa di bidang astronomi. Nama-nama ilmuwan Barat di bidang astronomi jauh lebih populer dibandingkan dengan nama para ilmuwan muslim. Sebut saja, misalnya, N. Copernicus (1473-1543), Tycho Brahe (1546-1601), Johannes Kepler (1571-1630), ataupun James Bradley (1693-1762). 
     Sejarah tentang astronomi dunia pada umumnya didominasi oleh para ilmuwan Barat-termasuk para ilmuwan Barat yang telah disebutkan. Dari sini, muncul penyembunyian temuan-temuan astronom muslim yang dilakukan oleh Barat. Temuan-temuan di bidang astronomi yang ditulis dalam buku-buku Barat dan tersebar ke seluruh dunia adalah temuan-temuan yang lahir dari para astronom Barat. Sebaliknya, temuan-temuan dari para astronom muslim disembunyikan, bahkan beberapa di antaranya diklaim sebagai temuan para ilmuwan Barat.
     Sebagai contoh, dalam studi astronomi, tentu ilmuwan muslim yang bernama Abdurrahman al-Khazini tidak bisa dilupakan. Betapa tidak, ilmuwan muslim yang berjaya di abad ke-12 M, tepatnya 1115-1130 M, itu telah memberi kontribusi yang sangat besar bagi perkembangan sains modern, terutama dalam bidang astronomi. Banyak orang yang mengatakan bahwa Al-Khazini adalah salah seorang astronom terbesar sepanjang masa. Namun, popularitas dan kontribusinya tidak diakui oleh Barat.
     Pemikiran-pemikiran Al-Khazini sangat tidak lepas dari pengaruh para ilmuwan besar sebelumnya, seperti Aristoteles, Archimedes Al-Quhi, Ibnu Haitham atau Alhacen, Al-Biruni, dan Omar Khayyam. Pemikiran pemikiran Al-Khazini mewarnai peradaban sains di dunia Barat, khususnya dalam bidang astronomi. Sayangnya Barat, tanpa rasa malu, tidak mengakuinya, bahkan menyembunyikan temuan-temuan Al-Khazini memberikan pengaruh besar terhadap sains Barat. Padahal banyak ilmuwan Barat yang "menginduk" pada pemikiran Al-Khazini, salah satunya adalah Gregory Choniades seorang astronom Yunani yang meninggal pada abad ke-13 M.
Lantas, apa saja temuan Al-Khazini yang disembunyikan oleh Barat?
Berikut jawaban dan uraiannya:

1. Tabel Sinjaric
     Sebagai seorang ilmuwan, Al-Khazini sebenarnya melahirkan banyak temuan, khususnya di bidang astronomi. Tetapi, temuan-temuan tersebut sengaja disembunyikan oleh Barat, atau dihapus dalam sejarah Barat sehingga tidak banyak dikenal oleh masyarakat dunia. Misalnya, salah satu temuan Al-Khazini yang sangat luar biasa dalam bidang astronomi adalah Tabel Sinjaric. Ia menulis penjelasan mengenai tabel itu dalam risalah astronomi yang berjudul Az-Zij as-Sanjari. Dalam catatan itu, Al-Khazini memaparkan tentang teorinya mengenai jam air ta merancang jam air 24 untuk kegunaan astronomi. 
     Dalam catatan sejarah ilmu astronomi di dunia, baik islam maupun Barat, inilah satu-satunya jam asrtronomi pertama yang dikenal di dunia. Tetapi keberadaan Tabel Sinjaric disembunyikan oleh Barat. Meskipun ada beberapa buku astronomi Barat yang menyinggung tentang fungsi Tabel Sinjaric, namun Barat tidak mencantumkan nama Al-Khazini, ilmuwan muslim, sebagai penemunya.

2. Teori Posisi 46 Bintang

     Temuan Al-Khazini berikutnya yang disembunyikan oleh Barat adalah teori posisi 46 bintang. Kecuali Al-Khazini, tidak ada ilmuwan dunia yang menjelaskan tentang posisi 46 bintang dalam bidang astronomi. Al-Khazini merumuskan teori itu setelah melakukan pengamatan yang sangat intensif terhadap benda-benda langit pada masa kejayaan Islam. Hasil temuan Al-Khazini itu sebenarnya ditulis dengan lengkap dalam karyanya yang berjudul Al-Khazini's Zijas-Sanjari. Karya tersebut telah diterjemahkan Gregory Choniades pada abad ke-13 M ke dalam bahasa Yunani.
     Ironisnya, Barat tidak mengakui rumusan Al-Khazini tentang posisi 46 bintang. Bahkan, beberapa abad kemudian, Barat melakukan penelitian ulang tentang posisi 46 bintang sebagaimana yang pernah diungkap oleh Al-Khazini. Hasilnya pun sama persis dengan yang dia oleh Al-Khazini. Tetapi, Barat tidak mencantumkan nama Al-Khazini sebagai penemunya. Padahal, teori posisi 46 bintang yang dirumuskan oleh Al-Khazini itu pernah menjadi rujukan para ilmuwan dan pelajar di Kekaisaran Bizantium. Pada abad modern pun, teori Al-Khazini tersebut masih memberi pengaruh di Barat dalam studi astronomi.


3. Tujuh Peralatan Astronomi
     Selain mencetuskan teori-teori di bidang astronomi, Al-Khazini juga menciptakan banyak peralatan yang berguna dalam astronomi. Peralatan-peralatan astronomi yang diciptakan oleh Al-Khazini selayaknya menjadi warisan yang abadi dan dikenang sepanjang masa jika tidak ada pemutarbalikan fakta sejarah oleh Barat. Padahal, sejumlah peralatan yang diciptakan oleh Al-Khazini sangat penting untuk penelitian dan pengembangan astronomi. Ketujuh alat yang diciptakannya itu adalah triquetrum, dioptra, peralatan segi tiga, quadran dan sektan, astrolabe, serta peralatan asli tentang refleksi.
     Ketujuh peralatan yang diciptakan oleh Al-Khazini sebenarnya pernah tertulis dalam catatan khusus berjudul Risala fil-alat, yang artinya manuskrip tentang peralatan. Sayangnya, untuk membaca catatan itu sangat sulit. Keberadaannya pun kini sulit dilacak. Kuat dugaan, catatan memang sengaja disembunyikan oleh Barat pasca Perang salib. Al-Khazini yang wafat pada abad ke-12 M sebenarnya tidak bisa sejajarkan dengan para ilmuwan Barat yang ahli di bidang astronomi. Sebab, Al-Khazini adalah seorang ilmuwan sepanjang masa. Tidak ada seorang astronom yang memberikan kontribusi banyak pada ilmu astronomi, kecuali Al-Khazini. Naifnya, Barat tidak bersikap jujur terhadap fakta sejarah yang ada. Seharusnya, Barat mengakui bahwa bidang astronomi yang ada di Barat sebenarnya adalah warisan Al-Khazini. Artinya, para ilmuwan Barat hanya mengembangkan dan melanjutkan.

D. Klaim Barat terhadap Ilmu Psikologi
     Masyarakat dunia sudah meyakini bahwa psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu lahir di Barat. Barat mengklaim bahwa ilmu psikologi yang mempelajari tingkah laku dan proses mental manusia itu lahir di Barat pada tahun 1879 M. Kelahiran ilmu psikologi, menurut klaim Barat, bersamaan dengan didirikannya laboratorium psikologi pertama di dunia milik Wilhelm Wundt yang ada di Leipzig.  Menurut Barat, laboratorium psikologi yang didirikan oleh Wilhelm Wundt pada tahun 1879 itulah muara pertama lahirnya psikologi sebagai sebuah disiplin ilmu ilmiah. Tidak ironis jika tahun berdirinya laboratorium Wundt diakui oleh dunia sebagai tanggal berdirinya psikologi sebagai ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, Barat yang membidani kelahiran ilmu psikologi yang belum pernah muncul pada masa-masa sebelumnya.
     Klaim Barat tersebut diyakini oleh hampir seluruh umat manusia di dunia ini, tidak terkecuali masyarakat muslim dan bangsa Indonesia. Banyak buku sejarah, psikologi, baik di Barat maupun di kalangan muslim, yang mengakui bahwa Barat adalah pencetus ilmu psikologi. Hal ini bisa dimaklumi karena Barat telah mengubah sejarah yang sebenarnya, menutup fakta sejarah tentang ilmu psikologi. Sehingga, masyarakat dunia-termasuk masyarakat Islam-juga mempercayai klaim Barat tersebut.
     Padahal, bila membaca sejarah dengan benar, akan tampak bahwa para ilmuwan muslim lebih dahulu mengembangkan ilmu psikologi daripada Barat jauh lahirnya Wilhelm Wundt. Barat telah menyembunyikan fakta sejarah bahwa peradaban Islam sebenarnya berperan besar dalam mengembangkan ilmu psikologi. Masyarakat dunia harus mengetahui bahwa sebenarnya jauh sebelum Barat mendeklarasikan berdirinya disiplin ilmu psikologi di abad ke-19 M, atau pada tahun 1879 M, para ilmuwan muslim yang ahli di bidang ilmu psikologi telah mengembangkan kajian psikologi (proses perilaku dan mental manusia), melakukan banyak penelitian dan uji coba tentang mental. Salah satu buktinya adalah berdirinya klinik yang kini dikenal sebagai rumah sakit psikiatris pada masa kekhalifahan Islam.
     Pada masa keemasan Islam, yaitu dalam kurun waktu tahun 600-1000 M, banyak psikolog muslim yang telah mengembangkan psikologi Islam. Ilmu psikologi ini dikenal dengan istilah 'ilmun nafsiat (studi nafs atau jiwa). Dalam kajian psikologi pada masa kejayaan Islam para psikologi muslim meneliti (mengkaji) tentang manusia melalui qalb (jantung), ruh, aql (intelektual), dan iradah (kehendak), "tabula rasa" dan nature-nurture, eksperimen psikologi, psikologi sufi, teori-teori berpikir, kesehatan mental, psikoterapi, gangguan fisik dan psikis, nosologi (ilmu mengenai pengklasifikasian penyakit), psikopatologi, neurosurgery, neuropsikiatri, neurologi, psikologi hewan, dan musikologi."? Pesatnya perkembangan studi psikologi pada masa kejayaan Islam bersamaan dengan pesatnya perkembangan ilmu kedokteran Islam.
     Pesatnya perkembangan ilmu psikologi yang dipelopori oleh para psikolog muslim ditandai dengan didirikannya rumah sakit jiwa pertama di dunia pada abad ke-8, yaitu di Baghdad pada tahun 705, di Fespada awal abad ke-8, di Kairo pada tahun 800, dan di Damaskus and Aleppo (Syria) pada tahun 1270. Ini sekaligus membuktikan bahwa ilmu psikologi bukan lahir di Barat, bukan pula dicetuskan oleh ilmuwan Barat. Apalagi, ilmuwan Barat yang bernama Wilhelm Wundt baru mengenal ilmu psikologi pada tahun 1879 M, pada masa kejayaan Islam.
     Reberapa psikolog muslim yang mengembangkan ilmu psikologi pada masa kejayaan Islam jauh sebelum kelahiran Wilhelm Wundt antara lain Abu Bakar Muhammad Ibnu Sirin (654-728), Al-Kindi (801-873), Abu Zaid Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi (850–934), Najabuddin Unhammad (870–925), Al- Farabi (872-951), Ibnu Sina (980–1037), Al-Ghazali (1058-1111), dan Ibnu Khaldun (1332-1406). "Selain nama-nama psikolog tersebut, masih banyak nama psikolog muslim lainnya yang memberikan kontribusi luar biasa terhadap ilmu psikologi. Mereka menghasilkan banyak karya di bidang psikologi. Sebagian besar dari mereka dan karya-karya mereka tidak dikenal oleh dunia karena telah disembunyikan oleh Barat.
     Salah satu contoh karya besar dari psikolog muslim yang disembunyikan oleh Barat adalah terapi musik. Terapi ini pertama kali diciptakan oleh Al-Kindi. Temuan psikolog muslim lainnya adalah psikoterapi atau al-'ilaj an-nofs yang diciptakan pertama kali di dunia oleh Ali ibnu Sahl Rabban ath-Thabari. Pada masa kejayaan Islam, psikolog muslim bernama Ahmed ibnu Sahl al-Balkhi, untuk pertama kalinya di dunia, merancang konsep kesehatan spiritual atau at-tibb ar-ruhani. Ia juga memperkenalkan konsep kesehatan mental.
     Tidak hanya itu, psikolog muslim lainnya, Al-Balkhi, adalah psikolog pertama di dunia yang memperkenalkan perbedaan konsep antara neuroses dan psychoses untuk mengklasifikasi gangguan penyakit saraf. Lebih jauh lagi, Al-Balkhi menunjukkan pada dunia bahwa ia adalah satu-satunya psikolog yang mampu mengonsep terapi rasional dan spiritual kognitif yang dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita oleh manusia. Oleh karena itu, ia dikenal sebagai psikolog medis dan kognitif.
     Berbagai karya dan temuan yang ditorehkan oleh para psikolog muslim tersebut sungguh luar biasa. Tetapi, hingga saat ini, Barat tetap mengklaim bahwa ilmu psikologi lahir di Barat, yaitu yang ditemukan oleh psikolog Barat bernama Wilhelm Wundt pada tahun 1879. Klaim tersebut sungguh tidak berdasar sama sekali.
E. Ilmu Kedokteran.
      Sikap Barat yang mengklaim dan menyembunyikan temuan-temuan para ilmuan muslim juga terjadi di ranah kedokteran. Seakan-akan ingin menguasai dunia dan menyingkirkan golongan lain, Barat mengklaim bahwa hampir semua aspek dalam ilmu kedokteran lahir dari para ilmuwanan Barat. Padahal, tidak demikian adanya. Banyak fakta sejarah yang telah diselewengkan oleh Barat. Sebenarnya, banyak ilmuwan muslim memberikan kontribusi besar terhadap dunia kedokteran, namun tidak diakui oleh Barat, bahkan disembunyikan dari sejarah. Berikut akan dijelaskan secara detail mengenai beberapa fakta mencolok bahwa ilmuwan muslim memberikan kontribusi besar dalam ilmu kedokteran, namun hal tersebut diselewengkan oleh Barat.

1. Klaim terhadap Metode Penyembuhan Penyakit Jiwa

     Dalam dunia kedokteran, Barat mengklaim bahwa Philipe Pinel120 merupakan ilmuwan pertama di dunia orang pertama yang memperkenalkan metode penyembuhan penyakit jiwa. Bahkan, Barat juga mengklaim bahwa rumah sakit jiwa (RSI) pertama di dunia lahir di dunia Barat.
     Padahal peradaban Islamlah yang pertama kali memperkenalkan sistem pendidikan kedokteran langsung di rumah sakit, yaitu pada abad ke-10 M. Perasaban Islam mendorong rumah sakit terbuka bagi semua kalanganlaki-laki, perempuan, warga sipil, militer, kaya, miskin, muslim, dan nonmuslim.
     Bahkan, lebih dari itu, rumah sakit yang berdiri pada masa kejayaan Islam mewujud dalam berbagai fungsi. Misalnya, berfungsi sebagai pusat perawatan kesehatan, rumah penyembuhan bagi pasien yang sedang dalam tahap pemulihan dari sakit atau kecelakaan. Dengan demikian, kesimpulannya adalah Barat bukanlah pelopor pertama di dunia dalam dunia kedokteran, melainkan para dokter muslim.


     2. Klaim terhadap Metode Operasi Bedah
     Barat juga mengklaim bahwa penemu metode operasi bedah adalah para ilmuwan Barat yang ahli bedah, misalnya James Syme asal Skotlandia, atau Joseph Lister asal Inggris. Kedua ilmuwan Barat itu dianggap paling berjasa dalam dunia kedokteran, khususnya dalam metode operasi bedah. Mereka memang dikenal sebagai ahli di bidang operasi bedah. Joseph Lister, misalnya, seorang ilmuwan Barat asal Inggris lahir pada tanggal 5 April 1827, diklaim oleh sebagai ilmuwan yang memperkenalkan penggunaan antiseptik dalam operasi. Ia dikenal oleh dunia berkat gagasannya mengenai sterilisasi yang dilaksanakan sebelum operasi pembedahan. Sedangkan, James Syme adalah seorang ilmuwan Barat yang bergelar profesor dari Skotlandia yang dikenal sebagai pakar utama ilmu bedah pada abad ke-19, atau sekitar tahun 1853. 
     Padahal, metode operasi bedah bukan lahir dari dunia Barat (para ilmuwan Barat), melainkan lahir dari para ilmuwan muslim pada masa kejayaan Islam. Ia adalah Abu al-Qasim Khalaf ibnu Abbas az-Zahrawi, seorang dokter muslim kelahiran Cordoba, Andalusia (Spanyol) pada 936. Az-Zahrawi tercatat sebagai ilmuwan pertama di dunia yang menemukan metode operasi bedah pada masa khalifah Abdur Rahman ll sedang berkuasa di Cordova, Spanyol. Tidak hanya itu, Az-Zahrawi juga dikenal sebagai ilmuwan pertama di dunia yang memberikan gambaran detail tentang penyakit hemofilia.
     Az-Zahrawi menemukan banyak peralatan bedah yang menjadi rujukan ilmu kedokteran Barat, khususnya dalam operasi bedah. Temuan Az-Zahrawi lainnya adalah larutan usus kucing yang dijadikan sebagai benang jahitan, sebelum menangani operasi kedua untuk memindahkan jahitan pada luka pasien. Ia juga tercatat sebagai seorang ilmuwan muslim yang pertama kali di dunia melakukan operasi cesar dan menciptakan sepasang alat penjepit untuk pembedahan.
     Sayangnya, fakta-fakta itu kurang populer di mata masyarakat dunia karena sejarah yang sebenarnya telah diselewengkan oleh Barat. Nama Az-Zahrawi nyaris tenggelam dalam studi kedokteran di dunia karena adanya klaim Barat bahwa ilmu operasi bedah lahir di Barat yang dipelopori oleh para ilmuwan Barat.




Comments