Logika BAB II
Jika sudut pandang dengan perspektif subjek penstudinya, maka dilihat dari objek kajiannya sendiri, terdapat sedikitnya aspek-aspek yang tidak kalah besar pengaruhnya. Tiga aspek kunci yang disinggung pada subbab berikutnya adalah aspek ontologis, epistimologis, dan aksiologis.
Dalam konteks sudut pandang tersebut, pertama-tama dipilih perspektif hukum penalaran menurut kaca mata kelompok ilmu-ilmu. Posisi pandang ilmu-ilmu sangat menentukan pendekatan masing-masing dalam melakukan aktivitas penalarannya. Diskursus berkepanjangan tentang ilmu yang berkesatuan (unifed science atau Einheitwissenchaft) dan pola penalaran mana yang paling andal antara induksi atau deduksi, adalah contoh masalah-masalah yang timbul karena dipicu oleh ketidaksepakatan pengelompokan ilmu-ilmu.
1. Kelompok Ilmu-Ilmu
Denotasi Ilmu dapat dirujuk dengan melihat unsur-unsur definisinya. Dalam karya besar kamusnya yang legendaris, Samuel Johnson menyebutkan unsur-unsur ilmu itu sebagai berikut:
a. Knowledge
b. Certainly grounded on demonstration
c. Art attained by percepts, or built on principles
d. Any art or species of knowledge
e. One of the seven liberal arts
Secara historis, banyak kalangan menyakini ilmu-ilmu yang konon saat ini berjumlah 650-700 buah, bermula dari filsafat. Diferensiasi ilmu, yang disebut ilmu-ilmu vak itu sudah dimulai pada era Yunani Kuno dan dipastikan akan berlanjut sampai sekarang.
Konstelasi ilmu-ilmu dibedakan dalam dua kelompok utama, yaitu imu formal dan ilmu empiris (ilmu positif). Ilmu-ilmu formal tidak memfokuskan diri pada gejala-gejala faktual sebagai objek kajiannya. Sebaliknya yang terjadi pada ilmu-ilmu empiris. Oleh karena itu, ilmu-ilmu formal digunakan sebagai sarana untuk membantu analisis ilmu-ilmu empiris. Sebagai contoh, statistika yang pada dasarnya bertumpu pada matematika, adalah sarana yang paling banyak digunakan untuk keprrluan analisis ilmu-ilmu empiris tersebut. Pusat perhatian ilmu-ilmu formal adalah sistem-sistem penalaran dan perhitungan.
Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu empiria karena yang lebih di perhatikan adalah kebenaran material, sementara metodologinya dapat saja berbeda-beda antara satu penelitian dengan penelitian lainnya.
Gejala pengetahuan dapat didekati dengan menggunakan dua model pendekatan. Pertama, manusia (subjek) itu mendekati objek telaahnya dengan membuat suatu model lahir dan nyata (tiga dimensi). Kedua, manusia mendekati objek seolah-olah hendak memasuki objek yang dipelajarinya itu sedalam-dalamnya.
Kedua model di atas mewakili dua kelompok ilmu. Model pertama mementingkan pengamatan dan penelitian, yang disebut empiris (“empirical” dari kata Yunani, yang berarti “meraba-raba”) atau aposteriori (dari kata Latin “post” atau sesudah). Model kedua mewakili kelompok ilmu yang seakan-akan ingin segera menangkap sususnan keniscayaan (strukture of “prius” atau sebelum) karena ilmu-ilmu formal ini ingin menentukan apa kiranya yang mendahului adanya segala kenyataan itu.
Perbedaan Ilmu-Ilmu Formal dan Empiris
Ilmu-ilmu empiris dibedakan menjadi dua kelompok, yakni ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geiswisstissenschaften). Kegiatan keilmuan adalah kegiatan manusia sebagai subjek. Hubungan antara subjek dan objek yang diteliti merupakan faktor yang sangat menentukan dalam pemilahan ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu kemanusiaan ini.
Subjek yang melakukan penelitian dalam ilmu-ilmu kemanusiaan adalah manusia dengan sasaran objek penyelidikan adalah juga manusia ( tidak sekedar fisik, melainkan kompleksitas keseluruhannya). Objek ilmu-ilmu alam adalah semua realitas fisik dari alam semesta sejauh realitas tersebut dapat diobservasi secara inderawi dan kebenaran pengetahuannya dapat divalidasi melalu rangkaiani eksperimen yang terukur.
A.G.M van Melsen menyebutkan secara panjang lebar kekhasan ilmu-ilmu alam, yang pada intinya mengacu pada dua ciri. Pertama, ilmu-ilmu alam melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang mengizinkan registrasi inderawi secara langsung. Artinya, data inderawi itu harus dimengerti secara tepat menurut penampakannya. Oleh karena itu, objektivitas ilmu-ilmu alam adalah objektivitas yang menyangkut apa yang diberikan sebagai objek (bukan produk penafsiran subjektivitas). Kedua, ilmu-ilmu alam mengandaikan pada objeknya suatu determinisme, sedemikian ruapa sehingga suatu aksi tertentu mutlak perlu menampilkan reaksi tertentu. Alam akan membuka rahasia dirinya jika terhadapanya diadakan eksperimen-eksperimen yang tepat. Benda-benda alam akan bereaksi menurut sifatnya yang spesifik. Ini berarti eksperimen-eksperimen itu dapat diulangi dengan reaksi spesifik yang sama pula.
Perbedaan Ilmu-Ilmu Alam dan Kemanusiaan
Ilmu-ilmu kemanusiaan (humanities atau human sciences) tidak sama dengan humaniora sebagaimana sering dirancukan. Menurut J. Drost, disiplin-disiplin yang tergolong dalam ilmu-ilmu kemanusiaan belum ada ketika humaniora dibentuk. Mula-mula humaniora terdiri atas gramatika, logika, dan retorika (ketiganya disebut trivium). Trivium kemudian ditingkatkan menjadi quadrivium, yaitu teologi, aritmetika, musik (teori akustik), dan astrologi (sekarang disebut astronomi). Dengan demikian, akhirnya dikenal “the seven liberal arts” (septem artes liberales) yang mencakup trivium (artes triviales) dan quadrivium (artes quadriviales).
Baik ilmu-ilmu formal maupun ilmu-ilmu empiris (ilmu alam dan ilmu-ilmu kemanusiaan), semuanya merupakan kelompok ilmu-ilmu teoretis. Produk dari ilmu-ilmu teoretis ini digunakan justru oleh ilmu-ilmu lain untuk tujuan kesejahteraan manusia atau memecahkan problem konkret tertentu. Inilah yang membedakannya dengan ilmu-ilmu praktis. Ilmu-ilmu praktis bertujuan untuk mengubah keadaan dan menawarkan langsung penyelesaian konkret.
Ilmu-ilmu praktis ini kemudian dibedakan menjadi dua kelompok lagi, yaitu ilmu praktis nomologi dan ilmu praktis normologis. Ilmu praktis yang normologis berusaha memperoleh pengetahuan faktual-empiris, yakni pengetahuan tentang hubungan ajeg yang ceteris paribus niscaya berlaku antara dua hal atau lebih berdasarkan asas kausalitas-deterministik. Produknya dapat diungkapkan, seperti ilmu empiris, dalam rumus logika: “Jika A (ada atau terjadi) maka B (ada atau terjadi).
Comments
Post a Comment